Panduan Lengkap Membuat Surat Bahasa Jawa: Formal & Informal, Dijamin Bisa!

Table of Contents

Membuat surat dalam Bahasa Jawa mungkin terdengar klasik atau bahkan rumit bagi sebagian orang, terutama yang belum terbiasa. Namun, ini adalah keterampilan yang indah dan penting untuk melestarikan budaya serta menunjukkan rasa hormat, terutama saat berkomunikasi dengan orang yang lebih tua atau dihormati. Berbeda dengan Bahasa Indonesia yang relatif standar, Bahasa Jawa punya tingkatan bahasa (undha-usuk basa) yang sangat memengaruhi cara kita menulis surat. Memilih tingkatan bahasa yang tepat adalah kunci utama keberhasilan suratmu.

Proses membuat surat Bahasa Jawa sebenarnya tidak jauh berbeda dengan membuat surat pada umumnya. Ada bagian pembuka, isi, dan penutup. Yang membedakan adalah pemilihan kata dan frasa yang harus disesuaikan dengan siapa kita menulis surat tersebut dan bagaimana hubungan kita dengannya. Ini menunjukkan betapa kaya dan sopannya Bahasa Jawa, di mana setiap kata yang keluar (atau tertulis) punya makna sosial dan budaya tersendiri. Mempelajari cara menulis surat ini berarti juga mendalami sopan santun Jawa.

Kenapa Surat Bahasa Jawa Itu Unik?

Keunikan utama surat Bahasa Jawa terletak pada undha-usuk basa atau tingkatan bahasa. Bahasa Jawa memiliki beberapa tingkatan yang digunakan berdasarkan hubungan antara pembicara/penulis dengan lawan bicara/penerima. Tingkatan ini mencerminkan rasa hormat, keakraban, atau posisi sosial. Dalam surat, pemilihan tingkatan ini sangat krusial agar pesan tersampaikan dengan santun dan tepat.

Membuat Surat Bahasa Jawa
Image just for illustration

Penggunaan Bahasa Jawa dalam surat, terutama untuk keluarga atau orang yang dituakan, seringkali menggunakan tingkatan yang lebih halus sebagai wujud bakti dan penghormatan. Ini berbeda dengan menulis surat untuk teman sebaya yang mungkin bisa menggunakan bahasa yang lebih santai. Oleh karena itu, sebelum mulai menulis, penting banget untuk menentukan dulu, “Untuk siapa surat ini?” dan “Bagaimana hubunganku dengannya?”.

Mengenal Tingkatan Bahasa (Undha-Usuk Basa)

Mari kita bedah sedikit soal tingkatan bahasa ini, karena ini pondasi utama dalam menulis surat Bahasa Jawa yang benar dan sopan. Setidaknya ada empat tingkatan utama yang perlu kamu tahu:

Ngoko Lugas

Ini adalah tingkatan bahasa Jawa yang paling dasar dan kasar (bukan berarti tidak sopan, tapi paling tidak formal). Kosakata yang digunakan adalah kosakata ngoko murni, tanpa ada campuran kosakata krama inggil. Ngoko Lugas biasanya digunakan saat berbicara atau menulis kepada orang yang sangat akrab dan usianya jauh di bawah kita, atau kepada orang yang status sosialnya dianggap setara namun dalam konteks yang sangat santai. Dalam surat, penggunaannya sangat terbatas, mungkin hanya dari orang tua kepada anak balita, atau catatan singkat antar teman yang super akrab.

Contoh kata: mangan (makan), turu (tidur), aku (saya), kowe (kamu).

Ngoko Alus

Tingkatan ini adalah kombinasi antara bahasa ngoko dan beberapa kosakata krama inggil, terutama untuk kata ganti orang kedua dan ketiga, serta kata kerja yang berhubungan dengan subjek yang dihormati. Ngoko Alus digunakan saat berbicara atau menulis kepada orang yang lebih muda tetapi tetap dihormati (misalnya, adik ipar yang lebih muda), atau antar teman sebaya yang akrab tapi tetap ingin menjaga kesantunan. Dalam surat, ini bisa digunakan antar teman sebaya atau dari orang tua ke anak yang sudah dewasa.

Contoh kata: Menggunakan kowe (ngoko) tapi kata kerja seperti dhahar (krama inggil) jika membicarakan aktivitas orang yang dihormati, atau menggunakan kata ganti panjenengan (krama inggil) untuk orang yang diajak bicara. Campuran inilah yang membuatnya disebut “alus”.

Krama Madya

Tingkatan ini berada di tengah, lebih sopan dari Ngoko Alus, tapi belum sehalus Krama Alus. Kosakata yang digunakan mayoritas adalah kosakata krama, dengan sedikit campuran ngoko. Krama Madya dulu sering digunakan di kalangan masyarakat umum dalam interaksi sehari-hari yang tidak terlalu formal namun tetap ingin menunjukkan kesantunan. Dalam konteks surat, ini mungkin kurang umum dibandingkan Krama Alus, tetapi bisa digunakan untuk surat antara orang yang saling menghargai namun bukan dalam konteks yang paling formal atau paling sopan.

Contoh kata: Menggunakan kosakata krama seperti nedha (makan), tilem (tidur), kula (saya), sampeyan (kamu/Anda - dalam krama madya).

Krama Alus (Krama Inggil)

Ini adalah tingkatan bahasa Jawa yang paling sopan dan halus. Kosakata yang digunakan didominasi oleh kosakata krama inggil (kata kerja dan kata benda untuk subjek yang dihormati) dan krama (untuk kata ganti orang pertama dan kata-kata lain yang tidak ada padanan krama inggilnya). Krama Alus wajib digunakan saat berbicara atau menulis kepada orang yang jauh lebih tua, dihormati, atau memiliki status sosial/jabatan lebih tinggi. Dalam surat, tingkatan ini paling umum digunakan, terutama saat menulis kepada orang tua, kakek/nenek, guru, atau tokoh masyarakat.

Contoh kata: Menggunakan kosakata krama inggil seperti dhahar (makan - untuk orang yang dihormati), sare (tidur - untuk orang yang dihormati), kula (saya - krama), panjenengan (Anda - krama inggil).

Memahami keempat tingkatan ini (dan kapan menggunakannya) adalah pondasi utama sebelum kamu mulai menyusun kata demi kata dalam surat Bahasa Jawa.

Struktur Umum Surat Bahasa Jawa

Sama seperti surat pada umumnya, surat Bahasa Jawa juga punya bagian-bagian standar. Mari kita lihat satu per satu, lengkap dengan istilah Jawanya:

Peprenah / Titi Mangsa (Tempat dan Tanggal)

Bagian ini diletakkan di pojok kanan atas surat. Menuliskan tempat di mana surat itu ditulis diikuti tanggal penulisan.

Contoh:
* Yogyakarta, 26 Oktober 2023
* Surakarta, 15 November 2023

Satata Basa / Adangiyah (Alamat Tujuan)

Bagian ini untuk menulis kepada siapa surat ini ditujukan. Ditulis di sebelah kiri, di bawah tanggal. Frasa yang digunakan bervariasi tergantung tingkatan bahasa dan hubungan dengan penerima.

Contoh (menggunakan Krama Alus):
* Katur dhumateng
Bapak / Ibu ....
ing Dalem

Contoh (menggunakan Ngoko Alus/Krama Madya):
* Kanggo Kangmas / Mbakyu ....
ing Ngendi Kae

Purwaka Basa / Adangiyah (Pembukaan)

Ini adalah paragraf pembuka surat, berisi salam atau basa-basi sebelum masuk ke inti surat. Frasa pembuka juga sangat bergantung pada tingkatan bahasa. Ini adalah bagian krusial untuk menunjukkan kesantunan.

Contoh Pembukaan (Krama Alus, untuk orang tua/dihormati):
* Assalamu’alaikum Wr. Wb. (jika muslim)
Kanthi layang punika, kula aturaken kabaring karahayon saha katentreman dhumateng panjenengan saengga saged katampi kanthi suka renaning penggalih. (Dengan surat ini, saya sampaikan kabar keselamatan dan ketenteraman kepada Anda sekalian sehingga dapat diterima dengan suka cita hati.)
Ing pangajab mugi panjenengan sakaluwarga tansah pinaringan rahmat saha barokahipun Gusti ingkang Maha Agung. (Harapan saya semoga Anda sekeluarga senantiasa diberi rahmat dan berkah-Nya Tuhan Yang Maha Agung.)
Salajengipun, kula ngaturaken sembah sungkem dhumateng panjenengan ingkang kinasih. (Selanjutnya, saya menyampaikan sembah sujud/hormat kepada Anda yang terkasih.)

Contoh Pembukaan (Ngoko Alus, untuk teman/saudara):
* Assalamu’alaikum Wr. Wb. (jika muslim)
Piye kabare, Le / Nduk? Muga-muga apik-apik wae ya. (Bagaimana kabarmu, Nak? Semoga baik-baik saja ya.)
Nalika aku nulis layang iki, kahananku lan kulawarga ing kene uga padha sehat wal’afiat. (Ketika aku menulis surat ini, keadaanku dan keluarga di sini juga sehat wal’afiat.)

Surasa Basa / Isi (Isi Surat)

Ini adalah bagian inti surat, di mana kamu menyampaikan maksud dan tujuan menulis surat. Gunakan kosakata dan struktur kalimat sesuai tingkatan bahasa yang sudah dipilih di awal. Jaga konsistensi penggunaan tingkatan bahasa di seluruh bagian isi surat. Paragraf di bagian isi biasanya 3-5 kalimat, memecah topik menjadi beberapa paragraf agar lebih mudah dibaca.

Contoh penggalan Isi (Krama Alus):
* Panjenengan dalem sampun nate paring dhawuh supados kula sowan menawi wonten wekdal longgar. (Anda pernah memberi perintah/pesan agar saya berkunjung jika ada waktu luang.) Inggih, saking kersaning Gusti, Insya Allah benjang dinten Minggu tanggal 29 Oktober 2023, kula saged sowan dhateng dalem panjenengan kagem silaturahmi. (Baik, atas kehendak Tuhan, Insya Allah besok hari Minggu tanggal 29 Oktober 2023, saya bisa berkunjung ke rumah Anda untuk silaturahmi.) Mugi kepareng panjenengan saengga kula saged sowan. (Semoga Anda berkenan sehingga saya bisa berkunjung.)

Contoh penggalan Isi (Ngoko Alus):
* Wingi kowe kirim kabar liwat Mbak Siti, njaluk dikirimi buku cathetan basa Jawa. (Kemarin kamu kirim kabar lewat Mbak Siti, minta dikirimi buku catatan bahasa Jawa.) Kebeneran bukune isih ana lan durung tak wenehake sapa-sapa. (Kebetulan bukunya masih ada dan belum aku berikan siapa-siapa.) Sesuk yen aku bali saka sekolah, bukune arep tak kirimake liwat pos. (Besok kalau aku pulang sekolah, bukunya mau aku kirimkan lewat pos.)

Wasana Basa (Penutup)

Bagian ini berisi kalimat penutup, permohonan maaf jika ada kesalahan, atau harapan. Seperti bagian pembuka, frasa penutup juga disesuaikan dengan tingkatan bahasa.

Contoh Penutup (Krama Alus):
* Cekap semanten atur kula, mbok bilih wonten kalepatan atur saha tindak-tanduk ingkang kirang trapsila, kula nyuwun agunging pangaksami. (Cukup sekian perkataan saya, barangkali ada kesalahan perkataan serta tingkah laku yang kurang sopan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.)
* Wasana cekap semanten, atur panuwun awit saking kawigatosan panjenengan. (Akhir kata cukup sekian, ucapan terima kasih atas perhatian Anda.)

Contoh Penutup (Ngoko Alus):
* Wis ya, layange tak rampungi dhisik. Kapan-kapan disambung maneh. (Sudah ya, suratnya aku akhiri dulu. Kapan-kapan disambung lagi.)
* Yen ana salah-salah kata, nyuwun ngapura ya. (Kalau ada salah-salah kata, minta maaf ya.)

Tapak Asma / Asma Terang (Tanda Tangan dan Nama)

Di bagian bawah setelah penutup, tuliskan frasa yang menunjukkan hubunganmu dengan penerima (misalnya “Anakmu”, “Siswa Panjenengan”, “Kancamu”), diikuti tanda tangan, dan nama terangmu.

Contoh (Krama Alus):
* Ngapunten,
Anak Panjenengan ingkang Bakti,
(tanda tangan)
(Nama Terang)

Contoh (Ngoko Alus):
* Saka kancamu,
(tanda tangan)
(Nama Terang)

Contoh Surat Berdasarkan Hubungan

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, mari kita lihat penggalan atau kerangka surat untuk skenario yang berbeda:

Contoh Surat dari Anak ke Orang Tua (Menggunakan Krama Alus)

Ini adalah skenario paling umum di mana Krama Alus digunakan secara konsisten sebagai wujud bakti anak kepada orang tua.

  • Peprenah / Titi Mangsa: [Tempat], [Tanggal]
  • Satata Basa / Adangiyah:
    Katur dhumateng
    Bapak / Ibu [Nama Orang Tua]
    ing Dalem [Alamat]
  • Purwaka Basa:
    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Kanthi layang punika, kula ngaturaken kabar bilih kawontenan kula ing [Tempatmu] tansah pinaringan karahayon. Mugi-mugi, kawontenan panjenengan sakaluwarga ing dalem ugi mekaten, tansah pinaringan sehat wal’afiat.
    Salajengipun, kula ngaturaken sembah sungkem dhumateng Bapak lan Ibu ingkang kinasih.
  • Surasa Basa:
    Panjenengan dalem sampun nate paring dhawuh supados kula sinau ingkang sregep supados saged pikantuk biji ingkang sae. (Anda pernah memberi pesan agar saya belajar yang rajin supaya bisa mendapat nilai yang bagus.) Inggih, dhawuh panjenengan sampun kula tampi lan tansah kula lampahi. (Baik, pesan Anda sudah saya terima dan senantiasa saya laksanakan.) Alhamdulillah, asilipun biji-biji kula ing wulangan punika sampun sae sanget. (Alhamdulillah, hasilnya nilai-nilai saya di pelajaran ini sudah sangat bagus.)
    Wekdal ujian sampun caket, nyuwun donga pangestunipun panjenengan supados sedaya kalampahan kanthi lancar saha pikantuk asil ingkang dados pangajab. (Waktu ujian sudah dekat, mohon doa restu Anda supaya semua berjalan lancar serta mendapat hasil yang diharapkan.)
  • Wasana Basa:
    Cekap semanten atur kula, mbok bilih wonten kalepatan atur saha tindak-tanduk ingkang kirang trapsila, kula nyuwun agunging pangaksami.
    Wasana cekap semanten, atur panuwun awit saking kawigatosan panjenengan.
  • Tapak Asma:
    Ngapunten,
    Anak Panjenengan ingkang Bakti,
    (tanda tangan)
    [Nama Terangmu]

Contoh Surat dari Teman ke Teman Sebaya (Menggunakan Ngoko Alus)

Untuk teman sebaya yang akrab tapi tetap ingin menjaga kesantunan. Ngoko Alus adalah pilihan yang pas.

  • Peprenah / Titi Mangsa: [Tempat], [Tanggal]
  • Satata Basa / Adangiyah:
    Kanggo kancaku, [Nama Teman]
    ing [Alamat Teman/Ngendi Kae]
  • Purwaka Basa:
    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Piye kabare, [Nama Teman]? Muga-muga kowe lan kulawarga ing kono sehat kabeh.
    Kahananku ing kene uga apik-apik wae. Alhamdulillah ora kurang sawapa.
  • Surasa Basa:
    Aku nulis layang iki arep ngabari yen acara kemah sing arep dianakake minggu ngarep dadi dilaksanakake. (Aku menulis surat ini mau memberi kabar kalau acara kemah yang akan diadakan minggu depan jadi dilaksanakan.) Panggonane ingwana wisata [Nama Tempat]. (Tempatnya di wana wisata [Nama Tempat].) Aku wis didhawuhi panitia kanggo ngandhani kanca-kanca sing arep melu. (Aku sudah diminta panitia untuk memberi tahu teman-teman yang mau ikut.)
    Kowe dadi melu ta? Yen dadi, sesuk sore teka omahku wae, arep dirembug peralatan sing kudu digawa. (Kamu jadi ikut kan? Kalau jadi, besok sore datang rumahku saja, mau dibahas peralatan yang harus dibawa.) Aja lali ngandhani Mas [Nama Kakak Teman] yen panjenengane uga diaturi rawuh. (Jangan lupa memberi tahu Mas [Nama Kakak Teman] kalau beliau juga diminta hadir.) (Note: Penggunaan ‘panjenengan’ dan ‘rawuh’ di sini adalah Krama Inggil yang disisipkan dalam Ngoko Alus untuk menghormati kakak teman).
  • Wasana Basa:
    Cekap semanten dhisik layang saka aku. Yen ana salah-salah tembung, nyuwun ngapura ya.
    Dienteni kabare lan tekamu sesuk sore.
  • Tapak Asma:
    Saka kancamu,
    (tanda tangan)
    [Nama Terangmu]

Tips Menulis Surat Bahasa Jawa yang Baik

  • Kenali Penerimanya: Ini kunci utama! Hubunganmu dengan penerima menentukan tingkatan bahasa yang harus digunakan. Salah tingkatan bisa dianggap tidak sopan.
  • Konsisten: Setelah memilih tingkatan bahasa (misal Krama Alus), gunakan tingkatan itu secara konsisten di seluruh bagian surat (pembuka, isi, penutup). Jangan mencampur aduk tingkatan bahasa tanpa aturan yang jelas (kecuali dalam Ngoko Alus yang memang mencampur ngoko dan krama inggil secara spesifik).
  • Perkaya Kosakata: Pelajari kosakata krama dan krama inggil. Banyak kamus Bahasa Jawa daring atau buku yang bisa membantu. Semakin banyak kosakata yang kamu kuasai, semakin luwes kamu menulis.
  • Perhatikan Akhiran Kata: Dalam Bahasa Jawa, ada perubahan bentuk kata kerja atau kata benda tergantung subjek dan objeknya, serta tingkatan bahasanya. Misalnya, akhiran -ipun/-ipun dalam krama.
  • Gunakan Frasa Baku: Ada frasa-frasa pembuka (purwaka) dan penutup (wasana) yang umum digunakan. Menggunakan frasa-frasa ini akan membuat suratmu terdengar lebih otentik dan sopan.
  • Latihan: Semakin sering menulis, semakin terbiasa. Coba tulis surat untuk anggota keluarga yang berbeda, lalu minta koreksi dari yang lebih tua atau paham Bahasa Jawa.

Menulis surat dalam Bahasa Jawa mungkin butuh usaha ekstra karena kerumitan tingkatan bahasanya. Namun, ini adalah cara yang luar biasa untuk menunjukkan kepedulian pada budaya dan menghormati orang lain. Di era digital ini, kemampuan menulis surat tradisional ini mungkin jarang dipakai, tetapi pemahaman undha-usuk basa tetap relevan dalam komunikasi lisan maupun tulisan (seperti chat atau email) dalam Bahasa Jawa.

Kemampuan ini juga sering dibutuhkan untuk acara-acara adat, undangan, atau bahkan sekadar memberikan kabar kepada sanak saudara yang tinggal jauh dan lebih nyaman berkomunikasi dalam Bahasa Jawa. Jadi, jangan ragu untuk mulai belajar dan mencoba. Siapa tahu, ini bisa jadi cara unikmu terhubung kembali dengan akar budaya!

Nah, bagaimana? Tertarik untuk mulai mencoba menulis surat dalam Bahasa Jawa? Atau mungkin kamu punya pengalaman seru saat mencoba menulis surat ini? Yuk, bagikan pendapat atau pengalamanmu di kolom komentar di bawah!

Posting Komentar